PANTAI BARAT MADINA HARUS MENJADI DAERAH OTONOM TERSENDIRI

- Penulis

Sabtu, 25 April 2026 - 01:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta l Pelindungnegeri.com—
Melihat luasnya wilayah Kabupaten Mandailing Natal setelah dimekarkan dari Kabupaten Tapanuli Selatan lebih dari 20 tahun lalu, hingga kini masih terlihat berbagai kepincangan, terutama dari sisi pembangunan sarana dan prasarana publik. Konsentrasi pembangunan dinilai lebih dominan di Panyabungan sebagai ibu kota kabupaten, sementara daerah-daerah lain, khususnya kawasan Pantai Barat, masih dalam kondisi yang memprihatinkan.

Pantai Barat Madina, baik dari sisi demografi, kultur, maupun kekayaan alamnya, memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan Mandailing Godang dan Mandailing Julu. Karakter masyarakat pesisir, adat istiadat, serta pola kehidupan sosial yang berkembang di Pantai Barat memiliki perbedaan yang sangat nyata dan tidak dimiliki oleh wilayah Mandailing Godang maupun Mandailing Julu.

Kekhasan tersebut menjadi alasan kuat bahwa Pantai Barat memiliki landasan historis, sosial, dan kultural untuk berdiri sebagai daerah otonom tersendiri.
Pemahaman ini semakin kuat ketika penulis menjadi salah satu anggota tim Peneliti Hukum Adat yang diterjunkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia ke Natal pada tahun 1995. Tim tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Muda Bidang Perdata Adat Mahkamah Agung RI saat itu, almarhum Bapak Palti Raja Siregar, SH.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama tiga hari tiga malam, tim bermukim di Natal untuk melakukan wawancara mendalam dengan para tokoh adat, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat. Dari hasil pengamatan langsung tersebut, terlihat jelas bahwa Pantai Barat memiliki identitas sosial dan adat yang khas sebagai wilayah pesisir yang berbeda dari kawasan Mandailing lainnya.

Baca Juga:  Menegakkan Amanat UUPA 1960: Pengakuan dan Perlindungan Tanah Ulayat Masyarakat Adat Mandailing

Walaupun penulis berasal dari Panyabungan asli dan merupakan keturunan Mandailing Julu (Huta Pungkut), namun secara objektif penulis berani menyimpulkan bahwa Pantai Barat sejak dahulu cenderung dianaktirikan dibandingkan daerah lain, khususnya jika dibandingkan dengan Panyabungan.

Jika kita berkaca pada strategi pembangunan daerah-daerah otonom di Pulau Jawa, salah satu cara untuk mempercepat pemerataan pembangunan adalah dengan memperbanyak daerah otonom. Sebagai contoh, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Pemalang, hingga Pekalongan merupakan wilayah yang berdekatan dan bahkan hanya dipisahkan oleh jembatan, namun masing-masing berdiri sebagai daerah otonom tersendiri.

Konsekuensinya, mereka mendapatkan alokasi pembangunan yang lebih besar dan lebih merata, padahal luas wilayah gabungan beberapa daerah tersebut masih belum menyamai luas Kabupaten Mandailing Natal saat ini.

Memang dari sisi jumlah penduduk, pemekaran daerah di Pulau Jawa lebih mudah dilakukan. Namun, kita juga dapat melihat contoh di Papua, di mana jumlah penduduk relatif minim, tetapi proses pemekaran daerah berlangsung sangat intensif demi percepatan pembangunan dan pelayanan publik.

Kesimpulannya, jika Pantai Barat Madina ingin lebih cepat maju, mendapatkan perhatian pembangunan yang adil, serta memiliki kewenangan penuh dalam mengelola potensi daerahnya sendiri, maka perjuangan menuju daerah otonom baru harus segera diwujudkan.
Pemekaran bukan sekadar soal pemisahan wilayah, tetapi tentang keadilan pembangunan, pemerataan kesejahteraan, dan masa depan masyarakat Pantai Barat Mandailing Natal.
Penulis: M. Amin Nasution
Advokat di Jakarta
(Jasuti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pelindungnegeri.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MTs Najaahan Ke Bayongbong Buka 2 Rombel Baru, Gandeng Polsek Isi Materi Cegah Kekerasan dan Narkoba
MTs Najaahan Ke Bayongbong Buka 2 Rombel Baru, Gandeng Polsek Isi Materi Cegah Kekerasan dan Narkoba
Pendaftaran MTs Attaqwa Naik 10 Persen, MPLS Usung Tema Mata Muda
SPPG Haurkuning Sajikan Menu Sehat, Higienis, dan Sesuai Selera Anak-Anak
Viral di Garut, Sawah Lega Rancamaya mirip Danau Kecil dengan view Gunung Cikuray
MI Attaqwa Terima 96 Siswa Baru, Kepsek Harap Ada Bantuan Penambahan Ruang Kelas
Reses Sidang ke III Jondris Pakpahan Anggota DPRD Siak Fraksi Golkar, Warga Keluhkan Lampu Jalan
Sholat Dhuha Perdana Jadi Momen Perpisahan Kepala SMPN 2 Karangpawitan Jelang Purna Bakti
Berita ini 110 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 01:23 WIB

MTs Najaahan Ke Bayongbong Buka 2 Rombel Baru, Gandeng Polsek Isi Materi Cegah Kekerasan dan Narkoba

Selasa, 28 Juli 2026 - 23:27 WIB

MTs Najaahan Ke Bayongbong Buka 2 Rombel Baru, Gandeng Polsek Isi Materi Cegah Kekerasan dan Narkoba

Selasa, 28 Juli 2026 - 23:22 WIB

Pendaftaran MTs Attaqwa Naik 10 Persen, MPLS Usung Tema Mata Muda

Selasa, 28 Juli 2026 - 23:17 WIB

SPPG Haurkuning Sajikan Menu Sehat, Higienis, dan Sesuai Selera Anak-Anak

Selasa, 28 Juli 2026 - 02:14 WIB

MI Attaqwa Terima 96 Siswa Baru, Kepsek Harap Ada Bantuan Penambahan Ruang Kelas

Berita Terbaru