Makna IKANAS bagi Madina: Perekat Silaturahmi, Penjaga Adat, dan Motor Kebangkitan Daerah

- Penulis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 10:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : H. Syahrir Nasution. Glr Sutan Kumala Bulan. Putra Batang Natal – Wakil Ketua HIKMA SUMUT.

Pantai Barat, Mandailing Natal l Pelindungnegeri.com
Keberadaan Ikatan Keluarga Nasution (IKANAS) bukan sekadar wadah perkumpulan marga di perantauan. Lebih dari itu, organisasi ini memiliki peran strategis sebagai perekat sosial, penjaga nilai budaya, serta penggerak kebangkitan masyarakat Mandailing Natal (Madina) menuju tatanan yang lebih beradab dan bermartabat.

Sejak awal dibentuk, IKANAS hadir sebagai ruang memperkuat rasa memiliki (sense of belonging) antar sesama keturunan Nasution yang berasal dari tanah leluhur, atau yang dikenal dengan istilah bona bulu dan bona pasogit. Ikatan ini menjadi jembatan emosional yang menghubungkan perantau dengan kampung halaman, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap identitas budaya Mandailing.

Tidak hanya sebatas mempertemukan sesama marga, IKANAS juga berfungsi memperkuat nilai-nilai adat dan budaya Mandailing yang diwariskan turun-temurun. Salah satu fondasi utama yang menjadi pijakan adalah konsep Dalian Na Tolu, yang mencakup tiga unsur penting dalam struktur sosial: Mora, Kahanggi, dan Anak Boru.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam falsafah ini, terkandung nilai luhur yang menjadi pedoman hidup masyarakat Mandailing, yaitu:

Somba ni Mora (menghormati pihak mora),
Manat markahanggi atau rosu na markahanggi (bijaksana terhadap sesama),
Elek marboru (mengayomi anak boru).

IKANAS seharusnya menjadi ruang yang menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam praktik nyata, bukan sekadar simbol atau formalitas organisasi.

Lebih jauh, peran IKANAS juga mencakup penguatan silaturahmi lintas marga, termasuk melibatkan unsur anak boru dalam lingkup paguyuban yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan semangat kebersamaan dalam adat Mandailing yang tidak eksklusif, melainkan inklusif dan saling melengkapi.

Namun demikian, sejumlah kalangan menilai bahwa peran strategis ini perlu terus dijaga agar tidak bergeser dari tujuan awal. IKANAS diharapkan tetap menjadi motor pemersatu, bukan justru menjadi faktor yang berpotensi memecah belah atau melemahkan solidaritas internal.

“Seharusnya IKANAS hadir untuk memotivasi marga Nasution agar melangkah bersama dalam satu derap menuju kebangkitan Madina yang madani, bukan sebaliknya,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Mandailing.

Dengan potensi besar yang dimiliki, IKANAS diharapkan mampu menjadi kekuatan sosial yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah, baik dari sisi moral, sosial, maupun ekonomi.

Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, keberadaan organisasi berbasis kekerabatan seperti IKANAS menjadi semakin penting sebagai benteng nilai, identitas, dan kebersamaan masyarakat Mandailing Natal.
Mandailing Natal – Keberadaan Ikatan Keluarga Nasution (IKANAS) bukan sekadar wadah perkumpulan marga di perantauan. Lebih dari itu, organisasi ini memiliki peran strategis sebagai perekat sosial, penjaga nilai budaya, serta penggerak kebangkitan masyarakat Mandailing Natal (Madina) menuju tatanan yang lebih beradab dan bermartabat.

Baca Juga:  Jalan Rusak dan Nyaris Putus, Warga Likupang–Bitung Ultimatum Keras Pemerintah: Jangan Janji Kosong..!

Sejak awal dibentuk, IKANAS hadir sebagai ruang memperkuat rasa memiliki (sense of belonging) antar sesama keturunan Nasution yang berasal dari tanah leluhur, atau yang dikenal dengan istilah bona bulu dan bona pasogit. Ikatan ini menjadi jembatan emosional yang menghubungkan perantau dengan kampung halaman, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap identitas budaya Mandailing.

Tidak hanya sebatas mempertemukan sesama marga, IKANAS juga berfungsi memperkuat nilai-nilai adat dan budaya Mandailing yang diwariskan turun-temurun. Salah satu fondasi utama yang menjadi pijakan adalah konsep Dalian Na Tolu, yang mencakup tiga unsur penting dalam struktur sosial: Mora, Kahanggi, dan Anak Boru.

Dalam falsafah ini, terkandung nilai luhur yang menjadi pedoman hidup masyarakat Mandailing, yaitu:

Somba ni Mora (menghormati pihak mora),
Manat markahanggi atau rosu na markahanggi (bijaksana terhadap sesama),
Elek marboru (mengayomi anak boru).

IKANAS seharusnya menjadi ruang yang menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam praktik nyata, bukan sekadar simbol atau formalitas organisasi.

Lebih jauh, peran IKANAS juga mencakup penguatan silaturahmi lintas marga, termasuk melibatkan unsur anak boru dalam lingkup paguyuban yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan semangat kebersamaan dalam adat Mandailing yang tidak eksklusif, melainkan inklusif dan saling melengkapi.

Namun demikian, sejumlah kalangan menilai bahwa peran strategis ini perlu terus dijaga agar tidak bergeser dari tujuan awal. IKANAS diharapkan tetap menjadi motor pemersatu, bukan justru menjadi faktor yang berpotensi memecah belah atau melemahkan solidaritas internal.

“Seharusnya IKANAS hadir untuk memotivasi marga Nasution agar melangkah bersama dalam satu derap menuju kebangkitan Madina yang madani, bukan sebaliknya,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Mandailing.

Dengan potensi besar yang dimiliki, IKANAS diharapkan mampu menjadi kekuatan sosial yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah, baik dari sisi moral, sosial, maupun ekonomi.

Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, keberadaan organisasi berbasis kekerabatan seperti IKANAS menjadi semakin penting sebagai benteng nilai, identitas, dan kebersamaan masyarakat Mandailing Natal.

(Jasuti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pelindungnegeri.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ponpes Nurul Fatah Gelar Maulid, Wisuda Tahfidz dan Amtsilati, Serta Khitanan Masal
Karhutla Hanguskan 10 Hektare Lahan di Pemulutan Barat, Polisi Ingatkan Warga Jangan Buang Puntung Rokok Sembarangan
Lantik Pengurus DHR-45, Bupati Garut Tekankan Nilai Perjuangan dan Kemandirian
Dua Tahun Kayu Tumbang Tutupi Separuh Badan Jalan Di Desa Sikumbu, Camat dan Babinsa Turun Langsung Angkat Batang Kayu Pakai Alat Berat
Polsek Lingga Bayu Gelar Jumat Berkah, Salurkan Tali Asih kepada Warga Desa Aek Garingging
Rusli Bacan Nyatakan Kesiapan Ikut Kontestasi Pilkades Telukbango 2026–2034
SDN 1 Cimanganten Raih 8 Prestasi di Bidang Seni, Agama, dan Bahasa Sunda Tingkat Kecamatan
Dukungan Warga Menguat, Pei Yulyawadi dan H. Izzi Hamdi Siap Mengabdi untuk Desa Telukbango
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 23:22 WIB

Ponpes Nurul Fatah Gelar Maulid, Wisuda Tahfidz dan Amtsilati, Serta Khitanan Masal

Minggu, 13 September 2026 - 04:28 WIB

Karhutla Hanguskan 10 Hektare Lahan di Pemulutan Barat, Polisi Ingatkan Warga Jangan Buang Puntung Rokok Sembarangan

Sabtu, 12 September 2026 - 23:05 WIB

Lantik Pengurus DHR-45, Bupati Garut Tekankan Nilai Perjuangan dan Kemandirian

Sabtu, 12 September 2026 - 01:19 WIB

Dua Tahun Kayu Tumbang Tutupi Separuh Badan Jalan Di Desa Sikumbu, Camat dan Babinsa Turun Langsung Angkat Batang Kayu Pakai Alat Berat

Jumat, 11 September 2026 - 14:50 WIB

Polsek Lingga Bayu Gelar Jumat Berkah, Salurkan Tali Asih kepada Warga Desa Aek Garingging

Berita Terbaru