Madina, Sumut l Pelindungnegeri.com Kabar penemuan bayi perempuan yang sempat menghebohkan warga Kelurahan Simpang Gambir, Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal, Sabtu (11/4/2026), akhirnya terbuka: informasi awal yang beredar tidak sepenuhnya benar.
Peristiwa itu mulanya mencuat sekitar pukul 13.30 WIB. Warga digegerkan oleh kabar adanya bayi yang disebut-sebut ditemukan di sebuah pondok di daerah aliran sungai. Informasi tersebut cepat menyebar, memicu keresahan sekaligus simpati.
Polsek Lingga Bayu bergerak cepat. Bayi yang dimaksud langsung dibawa ke Puskesmas Simpang Gambir untuk pemeriksaan medis. Hasilnya, bayi perempuan itu dalam kondisi sehat, dengan tali pusat yang belum lepas dan diperkirakan baru berusia sekitar satu hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, di balik narasi “penemuan” yang terlanjur viral, polisi menemukan fakta berbeda. Setelah memeriksa sejumlah pihak dan menelusuri kronologi kejadian, muncul kesimpulan: peristiwa tersebut lebih merupakan kesalahpahaman daripada kasus penemuan bayi seperti yang ramai diberitakan sebelumnya.
Kapolsek Lingga Bayu, IPTU Ilham P, S.H., M.H., menyebut klarifikasi telah dilakukan dan situasi berhasil dikendalikan. “Langkah penanganan sudah kami lakukan, termasuk pemeriksaan medis bayi dan klarifikasi terhadap pihak-pihak terkait.
Permasalahan ini disepakati selesai secara kekeluargaan,” ujarnya.
Penyelesaian non-litigasi ini melibatkan keluarga dari pihak-pihak terkait, dengan pertimbangan menjaga kondusivitas sosial di tengah masyarakat. Polisi menilai pendekatan persuasif lebih tepat ketimbang memperpanjang persoalan ke ranah hukum.
Meski begitu, aparat tetap mengingatkan publik untuk tidak gegabah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Dalam konteks hukum, penyebaran kabar yang tidak akurat berpotensi melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Kini, bayi tersebut dilaporkan dalam kondisi sehat dan berada dalam pengawasan keluarga dengan pendampingan pihak terkait. Situasi di Simpang Gambir pun kembali normal—menyisakan catatan penting tentang bagaimana kabar yang setengah benar bisa menjelma menjadi kegaduhan.
(Jasuti)












