AUDIENSI TERKAIT DUGAAN KETIDAKSESUAIAN PEMUNGUTAN PAJAK PBB-P2 DI DESA KERTARAHARJA

- Penulis

Rabu, 3 Juni 2026 - 11:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banten | PELINDUNG NEGERI.com-

Keluarga Mahasiswa Sobang (KEMAS) menyampaikan keprihatinan atas berbagai keluhan dan pengaduan masyarakat Desa Kertaraharja terkait dugaan ketidaksesuaian dalam pelaksanaan pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2), Rabu/3/Juni/2026.

Berdasarkan informasi serta bukti yang diterima KEMAS dari masyarakat, ditemukan adanya perbedaan nominal antara jumlah yang tercantum dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) dengan jumlah yang ditagihkan kepada wajib pajak. Untuk wilayah perkotaan, penagihan dilakukan oleh pihak kecamatan, sedangkan untuk wilayah perdesaan dilakukan oleh pihak desa. Dalam sejumlah kasus, masyarakat menunjukkan bukti berupa SPPT dan kwitansi pembayaran yang nominalnya tidak sesuai.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, terdapat pula pengaduan terkait pembayaran pajak pada tahun-tahun sebelumnya yang diduga tidak tersetorkan sebagaimana mestinya, meskipun masyarakat merasa telah melakukan kewajibannya setiap tahun. Kondisi ini menimbulkan keresahan dan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai transparansi pengelolaan serta penyetoran pajak yang telah dibayarkan.

Sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial terhadap masyarakat, KEMAS menerima dan menindaklanjuti aspirasi tersebut melalui jalur yang konstitusional, dialogis, dan berdasarkan prinsip kehati-hatian. Langkah ini dilakukan bukan untuk menghakimi pihak tertentu, melainkan untuk mencari kejelasan, kebenaran, dan solusi atas persoalan yang dikeluhkan masyarakat.

Atas dasar itu, KEMAS telah berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Sobang untuk melaksanakan audiensi guna melakukan klarifikasi, verifikasi, dan meminta penjelasan dari pihak-pihak terkait mengenai proses pemungutan pajak tersebut, termasuk terkait selisih nominal pembayaran dan status pembayaran pajak masyarakat yang diduga belum tersetorkan.

Namun demikian, pada pelaksanaan audiensi tanggal 2 Juni 2026, pihak yang menjadi objek klarifikasi, termasuk Pemerintah Desa Kertaraharja, tidak hadir dalam forum audiensi tersebut. Ketidakhadiran tersebut menyebabkan sejumlah pertanyaan dan aspirasi masyarakat belum memperoleh jawaban secara langsung.

Baca Juga:  Pilkades Setialaksana Menghangat, Dukungan untuk Rohmat Hidayatullah Nomor Urut 2 Semakin Ramai

KEMAS menegaskan bahwa kegiatan audiensi ini merupakan bagian dari pelaksanaan hak warga negara untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi sebagaimana dijamin dalam Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Selain itu, penyelenggaraan pemerintahan desa harus berpedoman pada asas transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Pengelolaan keuangan dan pelayanan kepada masyarakat wajib dilaksanakan secara terbuka demi terwujudnya pemerintahan yang bersih dan terpercaya.

Melalui siaran pers ini, KEMAS menyampaikan sikap sebagai berikut:
Mengawal aspirasi masyarakat terkait dugaan ketidaksesuaian pemungutan PBB-P2 secara objektif dan berdasarkan data.
Mendorong adanya klarifikasi terbuka dari pihak-pihak yang berwenang mengenai perbedaan nominal antara SPPT dan tagihan yang diterima masyarakat.

Meminta penjelasan mengenai status pembayaran pajak masyarakat yang diduga belum tersetorkan pada tahun-tahun sebelumnya.
Mendorong pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan instansi terkait untuk membuka ruang dialog yang transparan demi menjaga kepercayaan masyarakat.
Mengajak seluruh masyarakat untuk tetap mengedepankan asas hukum, menjaga kondusivitas, serta menyampaikan informasi berdasarkan fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi KEMAS, persoalan ini bukan sekadar mengenai nominal pajak, melainkan menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pelayanan publik. Oleh karena itu, setiap pertanyaan yang muncul dari masyarakat berhak memperoleh jawaban yang jelas, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami hadir bukan untuk mencari kesalahan siapa pun. Kami hadir karena ada suara masyarakat yang perlu didengar. Transparansi adalah jembatan kepercayaan, dan kepercayaan masyarakat harus dijaga bersama.”
KELUARGA MAHASISWA SOBANG (KEMAS)
“Suara Mahasiswa, Suara Masyarakat”

Pewarta: AN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pelindungnegeri.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kementerian P2MI Tambah Alokasi Pelatihan bagi Calon Pekerja Migran Asal Garut
Bupati Garut Terima Audiensi Forum Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Garut Bersatu
Disnakertrans Garut Ingatkan Warga Hindari Jalur Nonprosedural untuk Bekerja di Luar Negeri
Bupati Garut Apresiasi Pengabdian Sekda dan Kepala Bakesbangpol Selama 35 Tahun
Pasir Tongkang Diduga Ilegal Masuk Batam untuk Menopang Pertumbuhan Konstruksi
Sambut HUT PGRI ke-81, PGRI Garut Kota Gelar Lomba Mewarnai, 390 Anak TK Tunjukkan Kreativitas
Taman, S.E. Dorong Pemuda Karawang Tampil Kreatif, Peduli, dan Berkontribusi bagi Daerah
Pemkab Garut dan Kemenkes Siapkan Pembangunan CMU RSUD dr. Slamet dan Perluasan RS Rotinsulu
Berita ini 79 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 00:17 WIB

Kementerian P2MI Tambah Alokasi Pelatihan bagi Calon Pekerja Migran Asal Garut

Jumat, 30 Oktober 2026 - 00:13 WIB

Bupati Garut Terima Audiensi Forum Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Garut Bersatu

Jumat, 30 Oktober 2026 - 00:09 WIB

Disnakertrans Garut Ingatkan Warga Hindari Jalur Nonprosedural untuk Bekerja di Luar Negeri

Jumat, 30 Oktober 2026 - 00:03 WIB

Bupati Garut Apresiasi Pengabdian Sekda dan Kepala Bakesbangpol Selama 35 Tahun

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:10 WIB

Pasir Tongkang Diduga Ilegal Masuk Batam untuk Menopang Pertumbuhan Konstruksi

Berita Terbaru