Ditengah Konflik Sosial, Gubernur Maluku Utara Memilih Diam, “Ini Bentuk Pembiaran Struktural

- Penulis

Selasa, 7 April 2026 - 08:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelindungnegeri.com -Maluku Utara, Solidaritas Muda Indonesia Timur (SMIT) menilai, dengan adanya flayer yang beredar hilangnya Gubernur Maluku Utara di tengah konflik sosial adalah bentuk pembiaran struktural.

Menurut Inggrid Nola Tokan (Waketum SMIT), dalam setiap konflik sosial, peran pemimpin seharusnya menjadi penentu arah, meredakan ketegangan, membuka ruang dialog, dan memastikan keadilan bagi semua pihak. Justru yang kerap terjadi sebaliknya. Alhasil, diamnya pemimpin bukanlah sikap netral, melainkan bentuk keberpihakan dan pembiaran agar konflik mencapai titik jenuh, sehingga rakyat merasa lemah dan akhirnya menyerah pada skema pembebasan lahan yang ditawarkan elit dan hanya menguntungkan kelompok dominan. Kalau kata Rosa Luxemburg “Pemimpin yang diam membuat rakyat terbiasa dengan penindasan.”

“Konflik sosial tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia merupakan akumulasi dari ketimpangan ekonomi,politik, maupun kultural yang dibiarkan berlarut-larut.”

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lanjut Nola nama sapaan Inggrid, dalam logika kekuasaan, diam seringkali menjadi strategi untuk menghindari segala bentuk resiko. Seperti takut kehilangan kelompok besar, takut mengganggu kepentingan kapital dan takut mengganggu stabilitas semu.

Ini adalah bentuk pembiaran struktural. Bahkan bisa menjadi sinyal bahwa kekerasan atau ketidakadilan yang terjadi adalah sesuatu yang “ditoleransi”, selama tidak mengganggu kepentingan kekuasaan. Ironisnya, masyarakat terjebak dalam polarisasi yang semakin tajam, sehingga tidak lagi sekedar konflik sosial, tetapi berubah menjadi krisis kemanusiaan.

Konflik yang terjadi di Halmahera tengah itu tidak jatuh dari langit, hal itu merupakan kekerasan struktural yang sudah beberapa kali terjadi dengan motif perempasan rung hidup (konflik primer). Masyarakat yang terakumulasi dalam polarisasi sosial akibat dari rentetan kasus berbau SARA. (sebelumnya terjadi di Halmahera Utara).
Bahkan, Sempat bikin geger sejagat Moloku Kieraha karna salah satu anggota DPRD Provinsi Maluku Utara dari fraksi Partai Demokrat, dalam isi percakapannya, diduga kuat berbau provokatif sehingga mempertajam polarisasi tersebut (konflik sekunder) dan dapat memicu pertikaian dengan label AGAMA yang menyebabkan korban jiwa dan pembakaran rumah warga serta Gereja. Sentimen SARA adalah alat paling murah dan efektif bagi elit untuk memecah solidaritas kelas. Selama masyarakat sibuk saling curiga berdasarkan etnis, mereka tidak akan sempat bertanya : “Siapa yang mendapatkan untung dari hancurnya hutan kami?” atau “Mengapa sungai kami tidak lagi bisa diminum?” Tanya Nola

Baca Juga:  Wujudkan Personel Zero Narkoba, Polres Pekalongan Gelar Pemeriksaan Urine Mendadak Sabtu Malam

Gubernur Maluku Utara, dengan diam dan kelambatannya, telah gagal menjalankan mandat sebagai representasi publik. Dan patut dipertanyakan keberpihakannya dalam menyikapi rentetan peristiwa yang terjadi. Apalagi ditengah-tengah kegaduhan masyarakat yang mana belum ada kejelasan kaitannya dengan aktor intelektual atas peristiwa yang ada. Ia justru terjebak (atau sengaja menjebakkan diri) dalam jejaring kepentingan elit yang melihat tanah Halmahera bukan sebagai rumah bagi rakyatnya, melainkan sebagai komoditas yang harus diperas habis. Selama akar masalah yakni ketimpangan penguasaan lahan dan eksploitasi ugal-ugalan tidak disentuh, maka perdamaian yang ditawarkan hanyalah perdamaian semu di atas tanah yang sedang sekarat. Tambah Nola

Menurut Paulo Freire, netralitas bukan posisi tengah, melainkan keberpihakan kepada yang kuat. Olehnya itu, diam bukanlah pilihan etis. Yang dibutuhkan adalah keberanian politik untuk berpihak pada mereka yang paling rentan, sekaligus membuka ruang dialog yang setara dan inklusif. Tegas Nola

Dengan adanya penjelasan di atas SMIT perlu mempertanyakan: untuk siapa sebenarnya Gubernur Maluku Utara bekerja? Jika dalam momen krisis kemanusiaan ia memilih diam, maka diam itu sendiri adalah jawaban, bahwa kekuasaan tidak berdiri di sisi rakyat, melainkan kepentingan yang ingin mempertahankan status quo.”Tutup Nola
( Noval )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pelindungnegeri.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Hukum Martinus Zega dampingi Keluarga Korban Junita Putri Zega Laporkan Kasus Kematian ke Polsek Batu Aji
Ketika Kekuasaan Takut Kritik, Masih Sehat kah Demokrasi Indonesia?
Petahana Kembali turun gunung,Bursa Pimpinan BAZNAS Cianjur 2026-2031 Resmi Dibuka
Dari Pabrik ke Dunia Jurnalistik: Kisah Perjuangan Tanpa Batas Seorang Mantan Buruh di Karawang
Camat Baru Sinunukan Mulai Aktif, Fokus Tertib Administrasi dan Kegiatan Keagamaan
900 Warga Desa Cidadap Terima Bantuan Beras dan Minyak Goreng, Kepala Desa: Sangat Membantu di Tengah Harga Pangan Naik
Miris! Dugaan Peredaran Obat Keras di Depan SD Bojong Sari, Warga Resah
Bupati Halmahera Utara Dorong Digitalisasi Pajak Daerah, Gandeng Bank (Maluku-Malut)
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 09:58 WIB

Tim Hukum Martinus Zega dampingi Keluarga Korban Junita Putri Zega Laporkan Kasus Kematian ke Polsek Batu Aji

Jumat, 17 April 2026 - 03:41 WIB

Ketika Kekuasaan Takut Kritik, Masih Sehat kah Demokrasi Indonesia?

Kamis, 16 April 2026 - 08:16 WIB

Petahana Kembali turun gunung,Bursa Pimpinan BAZNAS Cianjur 2026-2031 Resmi Dibuka

Selasa, 14 April 2026 - 12:19 WIB

Camat Baru Sinunukan Mulai Aktif, Fokus Tertib Administrasi dan Kegiatan Keagamaan

Selasa, 14 April 2026 - 06:26 WIB

900 Warga Desa Cidadap Terima Bantuan Beras dan Minyak Goreng, Kepala Desa: Sangat Membantu di Tengah Harga Pangan Naik

Berita Terbaru