MERAUKE, PAPUA SELATAN PELINDUNGNEGERI.com— Pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada 2026 terus digenjot melalui program pencetakan sawah dan pengembangan pertanian modern. Namun, di tengah upaya meningkatkan produksi pangan, sejumlah petani justru menghadapi persoalan serius berupa sulitnya mendapatkan bahan bakar solar untuk menunjang aktivitas pertanian.
Keluhan tersebut disampaikan sejumlah petani kepada Faisal Anggara, jurnalis Media Pelindung Negeri. Para petani mengaku kesulitan memperoleh solar subsidi dengan harga yang terjangkau. Bahkan, ketika solar tersedia di lapangan, harganya disebut dapat jauh lebih tinggi dibandingkan harga resmi.
Menurut Faisal Anggara, persoalan tersebut menjadi perhatian karena solar merupakan salah satu kebutuhan penting bagi petani, khususnya untuk mendukung operasional alat dan mesin pertanian.
“Saya mendengar langsung dari mulut para petani di lapangan. Mereka sangat bersemangat menjalankan program pemerintah, tetapi langkah mereka terhenti karena solar yang tidak bisa didapatkan dengan harga wajar,” ujar Faisal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengatakan, para petani mengeluhkan solar subsidi yang sulit diperoleh. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi meningkatkan biaya produksi dan mengurangi pendapatan petani.
Harga Solar Dikeluhkan Melambung
Petani menyebut harga solar di lapangan dapat mencapai sekitar Rp11.000 hingga Rp17.000 per liter, terutama ketika pasokan sulit diperoleh melalui jalur resmi.
Kondisi tersebut membuat petani terpaksa membeli solar dari sumber tidak resmi untuk menjaga kegiatan pertanian tetap berjalan.
Akibatnya, biaya operasional meningkat dan dikhawatirkan dapat mengganggu keberlangsungan musim tanam serta target peningkatan produksi pertanian Merauke.
Dugaan Penimbunan dan Penyalahgunaan Distribusi
Persoalan kelangkaan solar juga dikaitkan dengan dugaan penimbunan serta penyalahgunaan distribusi BBM subsidi.
Informasi mengenai adanya penindakan terhadap pihak yang diduga menimbun solar subsidi juga menjadi perhatian. Praktik semacam itu, apabila terbukti, dinilai dapat mengganggu distribusi BBM yang seharusnya diterima masyarakat yang berhak, termasuk petani.
Ketua HKTI Papua Selatan, Sularso, sebelumnya menyoroti bahwa persoalan solar tidak hanya berkaitan dengan kuota, tetapi juga distribusi dan pengawasan di lapangan.
Kondisi geografis Merauke yang luas serta kebutuhan BBM yang meningkat seiring pengembangan lahan pertanian juga menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan pasokan solar tersedia secara merata.
Petani Minta SPBU Khusus
Perwakilan petani, Selfius Gebze, menyampaikan harapan agar pemerintah membangun SPBU atau titik pengisian BBM khusus bagi petani.
Menurutnya, keberadaan fasilitas khusus tersebut dapat membantu petani memperoleh solar secara lebih mudah sekaligus mengurangi potensi terjadinya permainan harga.
Para petani berharap pemerintah dapat memperketat pengawasan distribusi BBM subsidi, menindak tegas apabila ditemukan penimbunan atau penyalahgunaan, serta memastikan solar benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak.
Pemerintah Diharapkan Jamin Ketersediaan Solar
Para petani menyambut baik program pengembangan pertanian Merauke sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun, mereka meminta agar persoalan kebutuhan energi untuk kegiatan pertanian juga menjadi perhatian pemerintah.
Beberapa harapan yang disampaikan antara lain peningkatan pengawasan distribusi, penyesuaian pasokan dengan kebutuhan pertanian, penindakan terhadap pihak yang terbukti menyalahgunakan BBM subsidi, serta penyediaan titik pengisian khusus bagi petani.
Petani berharap jangan sampai program peningkatan produksi pertanian terhambat hanya karena kesulitan memperoleh solar.
Merauke memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu daerah penyangga pangan nasional. Karena itu, kelancaran sarana produksi, termasuk ketersediaan bahan bakar bagi alat dan mesin pertanian, dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan program tersebut.
Reporter: FAISAL ANGARA















