Pelindungnegeri.com, GORONTALO – Panas matahari Limboto siang itu kalah oleh sorak-sorai ribuan petani dan nelayan. Spanduk “Selamat Datang Presiden Prabowo” berkibar di setiap sudut Gor David Tony. Yel-yel “Prabowo! Prabowo!” menggema sejak pagi. Mereka datang bukan karena disuruh. Mereka datang karena menunggu.
Rabu, 24 Juni 2026. Hanya 4 jam. Itu waktu yang diberikan Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn) H. Prabowo Subianto untuk Gorontalo. Tapi 4 jam itu cukup untuk membuat Bumi Hulonthalo bergetar.
Pukul 10.21 WITA, raungan mesin Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 A-001 memecah langit Dunggala, Tibawa. Boeing 737-800 BBJ-2 itu mendarat pelan di Bandara Djalaluddin. Dari kejauhan, Gubernur Gusnar Ismail sudah berdiri paling depan. Di sampingnya, Kapolda Irjen Widodo dan Pangdam XIII/Merdeka Mayjen Mirza Agus. Forkopimda Gorontalo kompak. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Konvoi kepresidenan melaju kencang. Warga di pinggir jalan melambaikan tangan, sebagian mengangkat ponsel. Anak-anak SD melompat-lompat sambil berteriak “Pak Presiden!”. Di setiap tikungan menuju Limboto, karangan bunga dan umbul-umbul warna kuning-hijau, warna identitas PENAS XVII 2026, berjejer rapi.
Pukul 11.18 WITA. Gor David Tony meledak. Ribuan peserta PENAS dari Sabang sampai Merauke berdiri. Ketika sosok Prabowo melangkah ke panggung, tepuk tangan dan sorakan pecah. Ada yang menangis. Ada yang merekam dengan mata berkaca-kaca.
Di hadapan mereka, Presiden tidak bicara bertele-tele. Kalimatnya pendek, tapi menusuk: “Petani dan nelayan bukan kelas dua. Kalian adalah tulang punggung bangsa.”
Ruangan itu hening sejenak, lalu riuh kembali. Bagi Pak Tino, petani jagung dari Bone Bolango, itu kalimat yang ia tunggu 20 tahun. “Akhirnya ada presiden yang bilang kami penting, Pak. Kami ini bukan dipinggirkan lagi,” katanya sambil mengusap mata.
Di sela acara, Prabowo menyempatkan diri turun dari panggung. Ia menjabat tangan para petani, menepuk bahu nelayan, mendengar keluh kesah soal harga pupuk dan solar. Tidak ada protokoler yang kaku. Yang ada hanya seorang pemimpin dan rakyatnya, duduk sama rendah.
Pukul 12.50 WITA. Waktu pamit tiba. Konvoi kembali bergerak ke Bandara Djalaluddin. Warga kembali berjejer di pinggir jalan. Kali ini sorakan berubah jadi “Sampai jumpa, Pak!”. Pukul 14.00 WITA, roda Pesawat Kepresidenan A-001 terangkat dari landasan pacu Gorontalo.
4 jam berlalu cepat. Tapi 4 jam itu meninggalkan jejak. Jejak bahwa negara hadir. Jejak bahwa petani dan nelayan dilihat, didengar, dan dihargai.
Saat pesawat menghilang di ufuk barat, seorang ibu pedagang jagung rebus di parkiran Gor David Tony berbisik pelan: “Gorontalo tidak akan sama lagi setelah hari ini, Nak…”
(Noval).













