
Merangin, JAMBI | MediaLiputan6.com – Hamparan jagung yang menguning di Dusun Kampung Lering, Desa Markeh, Kecamatan Renah Pembarap, menjadi saksi keberhasilan sebuah langkah nyata. Lahan yang sebelumnya kurang produktif kini berubah menjadi sumber harapan baru bagi masyarakat, ditandai dengan panen perdana jagung yang digagas melalui BUMDes Muaro Karing, Rabu (18/03/2026).
Program ini bukan sekadar kegiatan pertanian biasa, melainkan bagian dari upaya konkret desa dalam mendukung program ketahanan pangan nasional yang menjadi prioritas pemerintah pusat. Melalui pemanfaatan Dana Desa secara tepat sasaran, Desa Markeh menunjukkan bahwa kemandirian pangan dapat dimulai dari tingkat paling bawah.Kepala Desa Markeh, Kurniawan, menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen desa dan dukungan lintas sektor.
“Ini bukan kerja satu dua orang, tapi hasil kebersamaan. Kami berterima kasih kepada semua pihak, mulai dari Polsek, Bhabinkamtibmas Bripka Angga Cahyadi, pihak kecamatan, pendamping desa Asqolani, pengurus BUMDes, hingga masyarakat. Sinergi ini yang membuat program ini berhasil,” ujarnya.
Ia menambahkan, program yang dijalankan tidak lepas dari arah kebijakan Presiden Republik Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis desa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Apa yang kami lakukan hari ini adalah bagian dari upaya mendukung program Presiden. Desa harus bisa mandiri pangan, dan ini langkah nyata kami, bukan sekadar rencana,” tegasnya.Ketua BUMDes Muaro Karing, Amdiarsal, menyebut panen perdana ini sebagai titik awal kebangkitan ekonomi desa berbasis pertanian.
“Kami ingin BUMDes benar-benar hadir sebagai penggerak ekonomi. Jagung ini bukan hanya hasil panen, tapi simbol bahwa desa bisa berdiri di kaki sendiri. Ke depan, kami akan kembangkan lagi agar manfaatnya lebih besar,” katanya.
Apresiasi juga datang dari Camat Renah Pembarap, Gus Syahhiri, S.Sos, yang menilai Desa Markeh telah menunjukkan langkah progresif yang patut dicontoh.
“Ini bukti bahwa Dana Desa bisa dikelola secara produktif. Apa yang dilakukan Desa Markeh sudah sejalan dengan program nasional, dan saya harap ini menjadi inspirasi bagi desa lain,” ungkapnya.
Dari sisi keamanan, Bhabinkamtibmas Bripka Angga Cahyadi menegaskan kesiapan pihaknya untuk terus mengawal program desa.“Kami siap mendukung selama program ini membawa manfaat bagi masyarakat dan dijalankan sesuai aturan. Kami juga akan terus mengawal agar kegiatan berjalan aman dan lancar,” tegasnya.
Pendamping desa, Asqolani, juga menekankan pentingnya pendampingan agar program berjalan berkelanjutan.
“Kami akan terus mendampingi agar program ini tidak berhenti di panen pertama saja, tetapi bisa berkembang dan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat,” ujarnya.
Keberhasilan ini pun dirasakan langsung oleh warga. Ahmad (45), salah satu warga Dusun Kampung Lering, mengaku bangga dengan perubahan yang terjadi di desanya.
“Dulu lahan ini terbengkalai, sekarang bisa menghasilkan. Kami sangat bersyukur dan bangga. Ini benar-benar membantu ekonomi warga,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Siti (38), yang merasakan manfaat dari program tersebut.
“Dengan adanya kegiatan ini, kami jadi punya harapan baru. Selain menambah penghasilan, kami juga jadi lebih semangat untuk bertani,” katanya.
Program ketahanan pangan yang dijalankan Desa Markeh sejalan dengan kebijakan Kementerian Desa PDTT yang mewajibkan alokasi minimal 20 persen Dana Desa untuk sektor produktif, khususnya pangan. Langkah ini menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan desa dari potensi krisis pangan.
Dengan semangat “Bukti Dulu Baru Cerita” dan “Perbanyak Aksi Bukan Narasi”, Desa Markeh membuktikan bahwa perubahan tidak harus menunggu lama. Dari lahan sederhana di kampung, kini tumbuh harapan besar bahwa desa mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan bangsa.
Reporter: A. Qosim












