Dugaan Kekerasan terhadap Santri di Pesantren Nurussalam Karawang Dilaporkan ke Polisi, Keluarga Minta Pengawasan Menyeluruh

- Penulis

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KARAWANG,PELINDUNGNEGERI.COM— Dugaan kekerasan terhadap seorang santri di Pondok Pesantren Modern Nurussalam, Desa Medangasem, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dilaporkan pihak keluarga kepada kepolisian. Keluarga korban berharap kasus tersebut ditangani secara serius dan transparan serta diikuti evaluasi terhadap sistem pengawasan santri di lingkungan pesantren.

Santri yang disebut bernama Habibi diduga mengalami kekerasan yang dilakukan oleh dua santri senior, yakni Fariz Maulana dan Rifky. Peristiwa tersebut, berdasarkan keterangan keluarga korban, terjadi pada Rabu, 19 Agustus 2026 sekitar pukul 06.30 WIB di lingkungan pondok pesantren.

Menurut orang tua korban, Fariz Ma’ruf, kejadian bermula ketika Habibi diminta merebus atau membuat mi instan. Saat itu, korban disebut sedang mempersiapkan diri untuk mengenakan pakaian sekolah sehingga sempat menolak permintaan tersebut. Penolakan itu diduga kemudian berujung pada tindakan kekerasan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keluarga menyebut Habibi diduga mengalami pemukulan dan tendangan, termasuk pada bagian perut, serta mengalami tindakan kekerasan pada bagian leher dan wajah. Akibat kejadian tersebut, korban disebut mengalami luka dan pembengkakan pada bagian wajah, luka pada bagian dalam bibir, serta pendarahan pada hidung dan mulut.

Keluarga Pertanyakan Penanganan Pihak Pesantren Setelah kejadian, orang tua korban mengaku telah berkomunikasi dengan H. Ujang selaku Ketua Pondok Pesantren Modern Nurussalam untuk menanyakan persoalan yang dialami anaknya. Menurut keluarga, sempat disepakati adanya pertemuan antara pihak keluarga dan pengelola pesantren pada Minggu.

Namun, keluarga korban menyebut pertemuan tersebut kemudian dibatalkan oleh pihak pondok. Keluarga juga mengaku kecewa karena belum melihat adanya tindakan yang dinilai tegas terhadap santri yang disebut terlibat dalam kejadian tersebut maupun pemanggilan orang tua mereka untuk membahas persoalan yang dialami Habibi.

“Kami sebagai orang tua sangat kecewa. Anak kami mengalami luka dan sampai sekarang masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut. Kami berharap pihak pondok tidak menganggap persoalan ini sebagai masalah biasa karena menyangkut keselamatan dan masa depan anak,” ujar Fariz Ma’ruf, menurut keterangannya kepada wartawan.

Keluarga menegaskan bahwa perhatian tidak hanya diperlukan terhadap luka fisik, tetapi juga kondisi psikologis korban. Mereka berharap Habibi mendapatkan perlindungan dan pendampingan agar dapat kembali menjalani pendidikan dengan aman.

Dilaporkan ke Polresta Karawang Karena merasa belum mendapatkan penyelesaian yang diharapkan, keluarga akhirnya menempuh jalur hukum dengan melaporkan dugaan kekerasan tersebut kepada Polresta Karawang.

Baca Juga:  Diduga Galian C Milik Hj. Yandri di Cilaku Disorot, Jalan Rusak dan Warga Keluhkan Debu

Keluarga berharap aparat penegak hukum dapat melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap korban, saksi-saksi, pihak pesantren, serta pihak lain yang mengetahui kejadian tersebut. Jika dalam proses penyelidikan ditemukan adanya dugaan tindak pidana, keluarga meminta penanganan dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Selain kepolisian, keluarga juga meminta perhatian Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karawang, khususnya bidang yang menangani Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren), untuk melihat aspek pembinaan dan pengawasan terhadap sistem pengasuhan di lingkungan pesantren.

Menurut keluarga, pemeriksaan tidak semata-mata ditujukan untuk mencari kesalahan pihak tertentu, melainkan untuk memastikan sistem pendidikan dan pengasuhan di pesantren benar-benar mampu memberikan rasa aman bagi seluruh santri.

Minta Sistem Pengawasan Santri Dievaluasi Keluarga Habibi juga meminta agar sistem pengawasan antara santri senior dan junior dievaluasi. Mereka ingin mengetahui sejauh mana pengawasan dilakukan oleh pengasuh maupun tenaga pendidik ketika para santri berada di lingkungan pondok.

Evaluasi tersebut dinilai penting untuk mengetahui apakah terdapat celah dalam sistem pengasuhan yang memungkinkan terjadinya tindakan kekerasan antarsantri maupun bentuk kekerasan lainnya.

Keluarga menegaskan bahwa permintaan tersebut bukan untuk menyudutkan lembaga pendidikan pesantren. Mereka berharap langkah evaluasi justru dapat menjadi upaya memperkuat perlindungan terhadap seluruh santri dan mencegah kejadian serupa terulang.

Keluarga Minta Proses Hukum Transparan Keluarga juga berharap proses hukum terhadap laporan tersebut berjalan secara objektif dan transparan. Mereka menyerahkan proses pembuktian kepada aparat penegak hukum sesuai mekanisme yang berlaku.

Terkait kemungkinan adanya sanksi terhadap pihak tertentu, keluarga berharap keputusan tersebut nantinya didasarkan pada hasil pemeriksaan dan fakta yang ditemukan. Apabila terbukti terdapat kelalaian dalam pengawasan atau pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku, keluarga meminta instansi berwenang mengambil langkah sesuai aturan.

Fariz Ma’ruf menegaskan bahwa keluarga tidak ingin persoalan tersebut berhenti tanpa kejelasan. Menurutnya, prioritas utama saat ini adalah pemulihan kondisi Habibi, kepastian proses hukum, serta jaminan keamanan bagi seluruh santri di Pondok Pesantren Modern Nurussalam.

Hingga berita ini diterbitkan, informasi mengenai dugaan kekerasan tersebut masih berdasarkan laporan dan keterangan dari pihak keluarga korban. H. Ujang selaku Ketua Pondok Pesantren Modern Nurussalam, Fariz Maulana, Rifky, serta keluarga masing-masing tetap memiliki hak untuk memberikan klarifikasi dan pembelaan sesuai dengan proses hukum yang berlaku.

Penulis : Nur.d

Editor : Nur Diani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pelindungnegeri.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Taman, S.E. Dorong Pemuda Karawang Tampil Kreatif, Peduli, dan Berkontribusi bagi Daerah
Pemkab Garut dan Kemenkes Siapkan Pembangunan CMU RSUD dr. Slamet dan Perluasan RS Rotinsulu
Ketua STAINUS Garut: Teguhkan Karakter, Kuasai IPTEK, dan Rawat Persatuan di Era Digital
Camat Beserta Jajaran dan Kapolsek Batujaya Sambangi Calon Kades Batu Raden,Tekankan Pilkades Aman dan Kondusif
Bupati Garut Lepas 783 Kontingen Porprov Jabar XV 2026, Target Prestasi di Tengah Keterbatasan Anggaran
Optimalisasi Lahan di Tanjung Pakis Diapresiasi Warga, Diharapkan Perkuat Dan Mencegah Terjadinya Longsor
Jaga Kekompakan dan Kepedulian Sosial, LSM Elang Mas Pesisir Selatan Pererat Hubungan Antaranggota
Sinergi Lintas Sektoral Sukseskan Pelacakan (Tracing) TB Paru di Sejumlah Lokus Wilayah Mandailing Natal
Berita ini 99 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:35 WIB

Taman, S.E. Dorong Pemuda Karawang Tampil Kreatif, Peduli, dan Berkontribusi bagi Daerah

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:02 WIB

Pemkab Garut dan Kemenkes Siapkan Pembangunan CMU RSUD dr. Slamet dan Perluasan RS Rotinsulu

Rabu, 28 Oktober 2026 - 05:26 WIB

Ketua STAINUS Garut: Teguhkan Karakter, Kuasai IPTEK, dan Rawat Persatuan di Era Digital

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:57 WIB

Camat Beserta Jajaran dan Kapolsek Batujaya Sambangi Calon Kades Batu Raden,Tekankan Pilkades Aman dan Kondusif

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:32 WIB

Bupati Garut Lepas 783 Kontingen Porprov Jabar XV 2026, Target Prestasi di Tengah Keterbatasan Anggaran

Berita Terbaru