Lingga Bayu, Pantai Barat Mandailing Natal l Pelindungnegeri.com—
Suasana haru menyelimuti kegiatan Khatam Al-Qur’an dan Pelepasan Siswa Kelas IX MTsN 6 Mandailing Natal ketika dua penampilan istimewa sukses membuat para orang tua siswa serta tamu undangan meneteskan air mata.
Dua penampilan yang paling memukau tersebut adalah pembacaan puisi sekaligus prosesi mencuci kaki ibu dan ayah, serta pertunjukan drama berjudul “Putus Sekolah” yang menggambarkan realitas kehidupan masyarakat dengan sangat menyentuh.
Penampilan puisi dan prosesi cuci kaki orang tua dibawakan dengan penuh penghayatan oleh :
MIFTAHUL RAHMI NASUTION : IBU UMMI SURYANI
NAJWATUR RIZFI: AYAH RIDWAN NASUTION
JUNISAH Siregar : IBU NURIMAN
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam suasana yang penuh keharuan, para siswa membacakan puisi tentang perjuangan orang tua sambil mencuci kaki ibu dan ayah mereka sebagai bentuk penghormatan, rasa syukur, dan bakti anak kepada orang tua.
Tangis haru pun pecah di tengah acara. Banyak orang tua yang tidak mampu menahan air mata saat menyaksikan anak-anak mereka bersimpuh, memohon doa restu, dan menunjukkan rasa terima kasih atas perjuangan yang telah diberikan selama ini.
Salah seorang wali murid mengaku sangat tersentuh dengan prosesi tersebut.
“Ini sangat menyentuh hati. Sebagai orang tua, kami merasa bangga sekaligus terharu melihat anak-anak kami memahami betapa besar perjuangan orang tua dalam membesarkan mereka,” ujarnya.
Selain itu, pertunjukan drama berjudul “Putus Sekkolah”, ciptaan Lutan Nasution, juga berhasil menyita perhatian seluruh hadirin. Drama tersebut diperankan oleh Adelima Pebriani sebagai ibu, Faiz Alfarizy sebagai anak, serta didukung oleh Kelvin Sakban Parlaungan dan Izhar Al Faro Rangkuti.
Alur cerita drama ini mengisahkan tentang seorang anak yang sejak kecil telah ditinggal wafat oleh ayahnya. Ia kemudian hidup bersama ibunya dalam kondisi serba kekurangan.
Setelah tamat sekolah, sang anak terpaksa pamit kepada ibunya untuk merantau karena sang ibu tidak mampu lagi membiayai pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Cerita tersebut sangat relevan dengan kondisi nyata yang dialami banyak keluarga saat ini, khususnya di daerah pedesaan, di mana keterbatasan ekonomi sering menjadi penghalang bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan.
Suasana aula semakin hening ketika adegan perpisahan antara ibu dan anak ditampilkan dengan penuh emosi. Banyak orang tua dan tamu undangan terlihat menyeka air mata karena merasa kisah tersebut begitu dekat dengan kehidupan mereka.
Kepala MTsN 6 Mandailing Natal, Hj. Junaida Nasution, S.Ag., M.A, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas dan kemampuan para siswa dalam menampilkan seni yang sarat makna dan nilai pendidikan.
“Ini bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk nyata kemampuan anak-anak kita dalam menyalurkan bakat, kreativitas, dan pesan moral kepada masyarakat. Kami bangga karena mereka mampu menampilkan pertunjukan yang menyentuh hati dan memberikan pelajaran hidup,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi wadah penting untuk membangun karakter, rasa empati, serta penghargaan terhadap perjuangan orang tua dan pentingnya pendidikan.
Acara Khatam Al-Qur’an dan pelepasan siswa kelas IX MTsN 6 Mandailing Natal pun menjadi lebih bermakna karena tidak hanya menjadi momen perpisahan, tetapi juga menjadi panggung pendidikan karakter yang membekas di hati seluruh yang hadir.
(Jasuti)



















