Oleh : Muhammad Sudirmin Nasution CLP, CIJ, CWP
Jakarta, l Pelindungnegeri.com
28 April 2026 – Kondisi keuangan negara kembali menjadi sorotan tajam setelah muncul analisis yang menyebut pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tengah menghadapi ancaman serius terhadap stabilitas fiskal nasional. Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tekanan berat pada APBN, mulai dari membengkaknya utang negara, menyusutnya cadangan anggaran, hingga meningkatnya risiko defisit yang semakin sulit dikendalikan.
Majalah Tempo dalam laporannya menyoroti bahwa saldo anggaran lebih (SAL) yang selama ini menjadi bantalan terakhir negara dalam menghadapi tekanan ekonomi kini terus menurun drastis. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya karena pemerintah kehilangan ruang gerak untuk menahan guncangan ekonomi jika krisis benar-benar terjadi.
Di sisi lain, beban pembayaran utang semakin berat. Pemerintah harus menghadapi cicilan utang besar dengan bunga yang terus meningkat, sementara penerimaan negara dari pajak dan sektor strategis belum cukup kuat untuk menopang kebutuhan belanja nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa negara sedang dipaksa berjalan di atas fondasi yang rapuh.
Ironisnya, di tengah tekanan fiskal yang mengancam, pemerintah justru dinilai masih mempertahankan berbagai proyek besar bernilai triliunan rupiah yang tidak secara langsung menjawab kebutuhan mendesak rakyat. Kritik pun menguat bahwa prioritas anggaran lebih condong pada proyek ambisius dan pencitraan politik dibandingkan penyelamatan ekonomi rakyat.
Pengamat ekonomi menilai, jika langkah koreksi tidak segera dilakukan, Indonesia dapat menghadapi ancaman yang lebih serius seperti lonjakan inflasi, penurunan daya beli masyarakat, hingga potensi perlambatan ekonomi nasional yang berdampak luas terhadap lapangan kerja dan stabilitas sosial.
Langkah darurat seperti efisiensi belanja negara, penghentian proyek-proyek yang membebani APBN, serta transparansi pengelolaan keuangan publik dianggap menjadi keharusan, bukan lagi pilihan.
Rakyat kini menunggu keberanian pemerintah untuk memilih:
menyelamatkan negara atau mempertahankan kepentingan kekuasaan.
Sebab ketika ekonomi runtuh, yang pertama kali jatuh bukan para elite, melainkan rakyat kecil yang setiap hari berjuang mempertahankan hidup.
(Jasuti)



















