
Medan (Sumut) l Pelindungnegeri.com
Di Sumatera Utara bagian selatan, khususnya Mandailing Natal, masyarakat tidak hanya hidup dalam sistem pemerintahan formal.
Di balik meja birokrasi dan panggung politik, berdiri struktur yang jauh lebih tua dan lebih berpengaruh:
harajaon,
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
legitimasi adat,
pengaruh tokoh,
keseimbangan kahanggi,
relasi mora-anakboru,
hingga memori sejarah antarkelompok.
Kadang semua itu berjalan beriringan dengan pemerintahan modern.
Namun tidak jarang justru saling menekan, saling mengunci, bahkan membuat pembangunan tersandera oleh kepentingan kelompok dan simbol kekuasaan.
Tulisan tentang IKANAS dan jalan panjang Nasution untuk Nusantara sejatinya bukan sekadar cerita organisasi marga. Lebih dari itu, ini adalah gambaran tentang bagaimana Mandailing masih terus berjuang menentukan arah masa depannya sendiri di tengah tarik-menarik adat, politik, dan kekuasaan modern.
Ironisnya, di saat nama besar Nasution begitu dihormati dari pusat hingga daerah, Mandailing Natal justru masih berkutat dengan persoalan klasik:
infrastruktur tertinggal,
tambang ilegal,
minim investasi produktif,
pengangguran pemuda,
pendidikan yang belum merata,
hingga lemahnya industrialisasi hasil alam daerah.
Padahal Mandailing memiliki sejarah besar, sumber daya besar, dan diaspora kuat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pertanyaan tajamnya sekarang:
Apakah IKANAS hanya akan menjadi organisasi nostalgia keturunan, atau benar-benar menjadi mesin perubahan sosial dan ekonomi bagi tanah leluhur?
Sebab hari ini publik mulai jenuh dengan seremoni.
Masyarakat tidak lagi hanya ingin mendengar pidato tentang persaudaraan dan adat.
Yang dibutuhkan rakyat adalah hasil nyata.
Jika organisasi sebesar IKANAS hanya sibuk pada:
pelantikan,
musda,
pengukuhan,
acara simbolik,
dan foto-foto elit,
maka lambat laun organisasi itu akan kehilangan makna di mata generasi muda Mandailing sendiri.
Apalagi ketika kedekatan antara organisasi, adat, dan kekuasaan politik mulai terlihat terlalu menyatu.
Situasi ini berpotensi melahirkan kesan bahwa sebagian organisasi kekerabatan hanya menjadi alat konsolidasi pengaruh elite, bukan ruang perjuangan masyarakat bawah.
Sementara itu, di kampung-kampung:
anak muda pergi merantau karena minim lapangan kerja,
petani masih sulit akses pasar,
jalan penghubung strategis belum tuntas,
dan eksploitasi alam terus berjalan tanpa keseimbangan lingkungan.
Bahkan persoalan tambang ilegal yang merusak sungai dan lingkungan Mandailing pernah menjadi perhatian serius pemerintah provinsi dan diminta ikut diawasi oleh IKANAS sendiri.
Inilah yang menjadi kekurangan besar hari ini:
1. IKANAS Belum Maksimal Menjadi Kekuatan Ekonomi
Jaringan diaspora Nasution sebenarnya sangat besar.
Namun belum terlihat gerakan ekonomi kolektif yang mampu:
membangun UMKM daerah,
membuka lapangan kerja,
membentuk koperasi besar,
atau mengangkat hasil bumi Mandailing ke pasar nasional.
2. Generasi Muda Mulai Jauh dari Identitas
Banyak anak muda Mandailing mengenal marga, tetapi tidak memahami sejarah perjuangan leluhurnya.
Organisasi adat dan kekerabatan belum maksimal masuk ke ruang pendidikan, literasi digital, dan kreativitas generasi muda.
3. Politik Masih Terlalu Dominan
Ketika organisasi terlalu dekat dengan kekuasaan, kritik sering melemah.
Padahal masyarakat membutuhkan organisasi yang berani menyuarakan:
kerusakan lingkungan,
ketimpangan pembangunan,
mafia sumber daya alam,
dan kemiskinan struktural di kampung sendiri.
4. Mandailing Belum Menjadi Kekuatan Regional
Secara geografis, Madina sangat strategis sebagai pintu Selatan Sumut menuju Sumbar.
Namun hingga kini potensinya belum dimaksimalkan menjadi pusat:
perdagangan,
wisata budaya,
pendidikan Islam,
dan agrobisnis modern.
Hari ini masyarakat tidak membutuhkan romantisme sejarah semata.
Mereka menunggu keberanian.
Keberanian untuk menjadikan:
adat bukan alat dominasi,
organisasi bukan sekadar simbol,
dan kekuasaan bukan hanya warisan nama besar.
Karena sebesar apa pun nama Nasution di republik ini, sejarah akhirnya akan bertanya satu hal sederhana:
Apa yang benar-benar diwariskan untuk tanah Mandailing selain kebanggaan nama?
(Jasuti)



















