“IKANAS, Kekuasaan dan Mandailing yang Terlalu Lama Menunggu”

- Penulis

Jumat, 22 Mei 2026 - 12:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : H. Syahrir Nasution. Glr. Sutan Kumala Bulan – Managing Director : POLITICAL & ECONOMIC CONSULTING INSTITUTE – Indonesia.

Medan (Sumut) l Pelindungnegeri.com
Di Sumatera Utara bagian selatan, khususnya Mandailing Natal, masyarakat tidak hanya hidup dalam sistem pemerintahan formal.

Di balik meja birokrasi dan panggung politik, berdiri struktur yang jauh lebih tua dan lebih berpengaruh:

harajaon,

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

legitimasi adat,

pengaruh tokoh,

keseimbangan kahanggi,

relasi mora-anakboru,

hingga memori sejarah antarkelompok.

Kadang semua itu berjalan beriringan dengan pemerintahan modern.
Namun tidak jarang justru saling menekan, saling mengunci, bahkan membuat pembangunan tersandera oleh kepentingan kelompok dan simbol kekuasaan.

Tulisan tentang IKANAS dan jalan panjang Nasution untuk Nusantara sejatinya bukan sekadar cerita organisasi marga. Lebih dari itu, ini adalah gambaran tentang bagaimana Mandailing masih terus berjuang menentukan arah masa depannya sendiri di tengah tarik-menarik adat, politik, dan kekuasaan modern.

Ironisnya, di saat nama besar Nasution begitu dihormati dari pusat hingga daerah, Mandailing Natal justru masih berkutat dengan persoalan klasik:

infrastruktur tertinggal,

tambang ilegal,

minim investasi produktif,

pengangguran pemuda,

pendidikan yang belum merata,
hingga lemahnya industrialisasi hasil alam daerah.

Padahal Mandailing memiliki sejarah besar, sumber daya besar, dan diaspora kuat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Pertanyaan tajamnya sekarang:

Apakah IKANAS hanya akan menjadi organisasi nostalgia keturunan, atau benar-benar menjadi mesin perubahan sosial dan ekonomi bagi tanah leluhur?
Sebab hari ini publik mulai jenuh dengan seremoni.

Masyarakat tidak lagi hanya ingin mendengar pidato tentang persaudaraan dan adat.

Yang dibutuhkan rakyat adalah hasil nyata.

Jika organisasi sebesar IKANAS hanya sibuk pada:

pelantikan,

musda,

pengukuhan,

acara simbolik,

dan foto-foto elit,

maka lambat laun organisasi itu akan kehilangan makna di mata generasi muda Mandailing sendiri.

Apalagi ketika kedekatan antara organisasi, adat, dan kekuasaan politik mulai terlihat terlalu menyatu.

Situasi ini berpotensi melahirkan kesan bahwa sebagian organisasi kekerabatan hanya menjadi alat konsolidasi pengaruh elite, bukan ruang perjuangan masyarakat bawah.

Baca Juga:  Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Bungo kembali mengungkap kasus dugaan tindak pidana narkotika jenis Sabu

Sementara itu, di kampung-kampung:

anak muda pergi merantau karena minim lapangan kerja,

petani masih sulit akses pasar,

jalan penghubung strategis belum tuntas,

dan eksploitasi alam terus berjalan tanpa keseimbangan lingkungan.

Bahkan persoalan tambang ilegal yang merusak sungai dan lingkungan Mandailing pernah menjadi perhatian serius pemerintah provinsi dan diminta ikut diawasi oleh IKANAS sendiri.

Inilah yang menjadi kekurangan besar hari ini:

1. IKANAS Belum Maksimal Menjadi Kekuatan Ekonomi

Jaringan diaspora Nasution sebenarnya sangat besar.

Namun belum terlihat gerakan ekonomi kolektif yang mampu:

membangun UMKM daerah,

membuka lapangan kerja,

membentuk koperasi besar,

atau mengangkat hasil bumi Mandailing ke pasar nasional.

2. Generasi Muda Mulai Jauh dari Identitas

Banyak anak muda Mandailing mengenal marga, tetapi tidak memahami sejarah perjuangan leluhurnya.

Organisasi adat dan kekerabatan belum maksimal masuk ke ruang pendidikan, literasi digital, dan kreativitas generasi muda.

3. Politik Masih Terlalu Dominan
Ketika organisasi terlalu dekat dengan kekuasaan, kritik sering melemah.

Padahal masyarakat membutuhkan organisasi yang berani menyuarakan:

kerusakan lingkungan,

ketimpangan pembangunan,

mafia sumber daya alam,

dan kemiskinan struktural di kampung sendiri.

4. Mandailing Belum Menjadi Kekuatan Regional

Secara geografis, Madina sangat strategis sebagai pintu Selatan Sumut menuju Sumbar.

Namun hingga kini potensinya belum dimaksimalkan menjadi pusat:

perdagangan,

wisata budaya,

pendidikan Islam,

dan agrobisnis modern.

Hari ini masyarakat tidak membutuhkan romantisme sejarah semata.

Mereka menunggu keberanian.
Keberanian untuk menjadikan:

adat bukan alat dominasi,

organisasi bukan sekadar simbol,

dan kekuasaan bukan hanya warisan nama besar.

Karena sebesar apa pun nama Nasution di republik ini, sejarah akhirnya akan bertanya satu hal sederhana:

Apa yang benar-benar diwariskan untuk tanah Mandailing selain kebanggaan nama?

(Jasuti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pelindungnegeri.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketua MPC PP Rohul Syahmadi Malau Resmi Melantik Pengurus PAC Tambusai Utara
Diduga Mangkrak, Proyek Jalan Usaha Tani Desa Jambur Baru Disorot Aktivis, Akan Dilaporkan ke Tipikor
Polres Bungo Gelar Gerakan Pangan Murah Bersama Bulog, Bantu Masyarakat Dapatkan Sembako Terjangkau
Muhammad Padli, S.IP ,Resmi Di Lantik Kepala Sub Bagian Evaluasi dan Pelaporan pada Inspektorat Daerah
Heri Mulyadi Makmur Resmi Jabat Camat Tanah Sepenggal, Siap Lanjutkan Pengabdian Ditempat Baru
Baznas Bungo Salurkan Zakat untuk 14.711 Mustahik, Serta Gelar Buka Puasa Bersama Dengan Pemerintah Kabupaten Bungo
Sat Binmas Polres Bungo Berbagi Takjil, Dipimpin Langsung Kasat Binmas
Dibawah Bimbingan PPL Nopriyanti S.P, Karya Bersama Brigade Pangan Kecamatan Tanah SepenggalKembali Terima Bantuan Alsintan Berupa Alat Perontok Padi Dari Kementan Pusat
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 12:11 WIB

“IKANAS, Kekuasaan dan Mandailing yang Terlalu Lama Menunggu”

Minggu, 26 April 2026 - 05:08 WIB

Ketua MPC PP Rohul Syahmadi Malau Resmi Melantik Pengurus PAC Tambusai Utara

Selasa, 31 Maret 2026 - 07:25 WIB

Diduga Mangkrak, Proyek Jalan Usaha Tani Desa Jambur Baru Disorot Aktivis, Akan Dilaporkan ke Tipikor

Jumat, 13 Maret 2026 - 12:14 WIB

Polres Bungo Gelar Gerakan Pangan Murah Bersama Bulog, Bantu Masyarakat Dapatkan Sembako Terjangkau

Kamis, 12 Maret 2026 - 17:53 WIB

Muhammad Padli, S.IP ,Resmi Di Lantik Kepala Sub Bagian Evaluasi dan Pelaporan pada Inspektorat Daerah

Berita Terbaru